Yogyakarta… Kapan semua terjangkau Angkutan Umum??

Pertumbuhan kendaraan bermotor semakin hari semakin meningkat tajam. Penambahan kendaraan bermotor (kendaraan pribadi) di Kota Yogyakarta sepanjang tahun 2011 tercatat sangat signifikan. Setiap bulannya sekitar 8.900 kendaraan bertambah di jalanan Kota Yogyakarta. Terdiri dari 8.000 unit sepeda motor dan 900 kendaraan roda empat. Secara keseluruhan, disebutkan jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalananan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berplat nomor AB di tahun 2011 mencapai 1.210.250 unit, jauh meningkat dibanding dengan tahun 2010 silam yang hanya 1.120.907 unit (sumber: Tribun Jogja – Selasa, 10 Januari 2012).

Jika pada tahun 2011 tercatat penduduk Provinsi DIY adalah 3.513.071 jiwa (sumber: data BPS Provinsi DIY 2011), maka sekitar 34% penduduknya memiliki kendaraan bermotor. Jika dihitung berdasarkan jumlah usia produktif (15-65 tahun), terdapat 68,47% usia produktif atau sekitar 2.405.400 jiwa. Artinya sekitar 50% usia produktif memiliki kendaraan bermotor.

Bisa dibayangkan, jika kendaraan bermotor tersebut disusun berbaris (asumsi jumlah mobil adalah 10% dengan panjang space rata-rata 4 meter dan jumlah sepeda motor 90% dengan space rata-rata 2 meter). Panjang yang akan didapatkan adalah sekitar 2700 KM. Bandingkan dengan data jalan yang ada di Provinsi Yogyakarta (Arteri sampai dengan Kolektor 2) adalah 787 KM (sumber: Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi). Artinya panjang jalan hanya 28,9% dari panjang barisan kendaraan jika disusun 1 baris, jika disusun dengan 2 barispun hanya 57,8%. Hal sederhana ini menujukkan bahwa tidak seimbangnya antara demand (kendaraan) dan supply (jaringan jalan). Jika hal ini tidak diantisipasi maka kemacetan tidak akan bisa dihindari. Apalagi pertumbuhan kendaraan yang jauh melebihi pertumbuhan prasarana jalannya.

Cara yang paling mudah untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan penggunaan bersama sebuah kendaraan untuk beberapa orang atau dengan angkutan umum. Artinya jika orang yang melakukan pergerakan dapat diarahkan untuk memakai kendaraan umum maka akan terjadi pengurangan jumlah kendaraan yang bergerak di jaringan jalan. Logika mudahnya, jika kapasitas kendaraan angkutan umum sekitar 20 orang maka akan mengurangi 20 kendaraan pribadi yang bergerak dijalan raya. Namun pertanyaannya adalah apakah semua wilayah di Provinsi DIY ini telah terjangkau angkutan umum.

Jangkauan pelayanan rute trayek angkutan umum juga dapat dilihat dari kedekatan pengguna untuk melakukan jalan kaki ke sarana tersebut. Dengan membagi daerah pelayanan berdasarkan jarak berjalan kaki tersebut dapat diketahui wilayah-wilayah yang belum terlayani dengan baik. Menurut beberapa survei dikatakan bahwa orang masih mau berjalan kaki untuk menuju keangkutan umum adalah antara 250- 500 meter. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Transportasi Janabadra menemukan bahwa di Wilayah Agromerasi Perkotaan Yogyakarta (APY), wilayah yang pengguna angkutan umumnya masih harus berjalan lebih dari 500 meter untuk menuju angkutan umum adalah: Trihanggo, Nogotirto, Sinduadi, Caturtunggal, Muja-muju, Banguntapan, Banyuraden, Wirobrajan, Tahunan, dan Tamantirto. Dari keseluruhan wilayah di APY, 39,23 % telah berada dijangkauan kurang dari 250 meter ke fasilitas rute angkutan umum. Sisanya masih berada di luar atau di atas 250 meter, artinya masyarakat akan berjalan kaki atau menggunakan moda lain untuk menuju ke rute trayek  angkutan umum lebih dari 250 meter.

Dari hasil overlay (tumpang susun) daerah berpenduduk/daerah permukiman dengan rute trayek eksisting dapat diketahui bahwa ada beberapa daerah padat permukiman yang belum/belum semua terlayani trayek angkutan umum, adalah: Sinduadi, Caturtunggal, Maguwoharjo, Mujamuju, Demangan, Baciro, WIrobrajan, Banyuraden, Tahunan, Patangpuluhan, Gedongkiwo, dan Jagalan.

Uraian diatas merupakan gambaran dari jangkauan angkutan umum di wilayah perkotaan. Masih menjadi pertanyaa besar adalah bagaimana dengan tingkat pelayanannya? Bagaimana angkutan untuk pedesaanya? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang harus dijawab. Yogyakarta… Kapan semua terjangkau Angkutan Umum??

On Street Parking VS Kerugian Transportasi (Kasus Jalan C Simanjuntak Yogyakarta)

Tidak dipungkiri bahwa dengan andanya on street parking (parkir di badan jalan) akan menambah luasan area parkir (tanpa harus membangun lahan parkir). Hal ini tentunya berdampak pada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi parkir yang dibayarkan.

Namun demikian dari sisi manajemen lalu lintas, adanya on street parking akan mengurangi kapasitas jalan (jumlah maksimal kendaraan yang dapat melewati ruas jalan dalam periode waktu tertentu). Pengurangan kapasitas jalan akan mempengaruhi prilaku pengemudi dengan memperlambat kecepatan kendaraan karena berkurangnya ruang untuk manuver kendaraan. Dalam keadaan lalu lintas padat, jika salah satu kendaraan mengurangi kecepatannya, akan menimbulkan efek berantai terhadap kendaraan lain dibelakangnya. Kemacetan tidak akan terelakan jika kondisi ini terjadi berulang-ulang.

Dampak dari kemacetan adalah naiknya Biaya Operasional Kendaraan (BOK) karena waktu tempuh menjadi panjang, hilangnya Nilai Waktu bagi pengguna jalan karena berkurangnya waktu kerja akibat macet, polusi, dampak kesehatan masyarakat dan lain sebagainya.

Melihat dari dua sisi tersebut, yang menjadi pertanyaan besar adalah: Apakah Pendapat Retribusi On Street Parking (“yang diterima pemerintah”) sebanding dengan kerugian timbul (seperti penambahan BOK dan kehilangan nilai waktu) yang dirasakan oleh masyarakat luas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Pusat Studi Transportasi Universitas Janabadra telah melakukan penelitian dengan studi kasus Jalan C. Simanjutak Yogyakarta (jalan dengan panjang 800 meter dari Pertigaan Terban sampai ke Perempatan Mirota Kampus).  Penelitian ini dilaksanakan oleh salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Janabadra pada bulan Juli 2012 pada hari kerja normal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah total kendaraan yang melewati Jalan C. Sumanjuntak pada hari kerja normal (Jam 06.00 s/d 21.00 WIB) adalah 17443 smp (satuan mobil penumpang)/jam. Dengan adanya on street parking, kapasitas jalan menurun hingga 566 smp/jam, dari semula 3507 smp/jam. Waktu tempuh perjalanan dari Pertigaan Terban sampai ke Perempatan Mirota Kampus menjadi hampir 2 kali lipat dengan adanya on street parking jika dibandingkan dengan kondisi tanpa parkir. Total sellisih waktu perjalanan seluruh kendaraan  adalah 621, 408 detik.

Dengan adanya penambahan waktu tersebut kemudian di analisis perbandingan BOK total (17443 kendaraan dari jam 06.00 s/d 21.00 WIB) dengan adanya on street parking dan BOK jika tanpa adanya on street parking. Kerugian akibat penambahan BOK adalah Rp.16.491.496,93 pada hari kerja normal. Dari sisi nilai waktu, jika asumsi nilai waktu pekerja/masyarakat di Jogjakarta adalah Rp.100/menit/kendaraan (1,667/detik/kendaraan) dan okupansi  kendaraan 2 orang, maka kerugian yang timbul akibat kehilangan nilai waktu adalah Rp.36.203.008,45.

Sementara itu disisi lain, kendaraan yang parkir secara on street dari jam 06.00 s/d 21.00 WIB adalah 537 mobil dan 755 sepeda motor. Jika asumsi retribusi parkir mobil adalah Rp.2.000,- dan sepeda motor adalah Rp.1.000,-, maka pendapatan dari parkir (pendapatan kotor) sekitar Rp.1.829.000.

Bisa dibayangkan bagaimana jika kedua hal tersebut disandingkan?  Kerugian yang diderita masyarakat perhari akibat penambahan BOK dan kehilangan nilai waktu adalah (Rp.16.491.496,93 + Rp.36.203.008,45) Rp.52.694.505,38 sementara itu pendapatan retribusi parkir adalah Rp.1.829.000.

Jika dihitungkan dalam satu tahun berarti kerugian yang diderita adalah sekitar 19 milyar pertahun, sementara pendapatan kotor parkir adalah sekitar 667 juta (kurang dari 1 milyar). Maka penghasilan parkir tersebut belum dapat menutup kerugian yang diderita masyarakat (hanya 5 % dari kerugian yang diderita masyarakat). Pertanyaan selanjutnya adalah masih akan dilanjutkankah kebijakan on street parking? Bisakah pemerintah mengadakan kantong parkir untuk menekan kerugian yang diderita masyarakat? Cukupkah dengan dana 19 milyar untuk membangun kantong parkir bagi Jalan C Simanjuntak? Bagaimana jika seluruh jalan di kota Jogjakarta mengalami kerugian seperti itu? Bayangkan jika jalan dengan hanya panjang 800 meter mengakibatkan kerugian sekitar Rp.52 juta, berapa panjang jalan di Kota Jogjakarta?

Kikir Dengan Umur

Banyak orang yang sangat kikir dengan hartanya, namun lebih banyak lagi yang kikir dengan umurnya. Mereka menyimpan sang umur disebuah lemari besi bernama “KEMALASAN”… (JelajaHati: Usy Syatori Abdul Rauf)

Penerimaan Mahasiswa Baru Smt Genap 2012 2013

Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Janabadra (MTS FTUJB) kembali membuka pendaftaran mahasiswa baru Semester Gasal Tahun Ajaran 2012-2013 dengan 4 Bidang Konsentrasi:

  1. Rekayasa Transportasi
  2. Manajemen Konstruksi
  3. Pengelolaan Sumber Daya Air
  4. Rekayasa Struktur.

Formulir pendaftaran dapat diambil secara langsung ke Program Studi MTS FTUJB atau diunduh ke http://magistertekniksipil.janabadra.ac.id/

Batas akhir pendaftaran: 15 Februari 2013

Penerimaan Mahasiswa Baru MTS FT UJB Gasal 2012-2013

Program Studi Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Janabadra (MTS FTUJB) membukan pendaftaran mahasiswa baru Semester Gasal Tahun Ajaran 2012-2013 dengan 4 Bidang Konsentrasi:

  1. Rekayasa Transportasi
  2. Manajemen Konstruksi
  3. Pengelolaan Sumber Daya Air
  4. Rekayasa Struktur.

Formulir pendaftaran dapat diambil secara langsung ke Program Studi MTS FTUJB atau diunduh ke http://magistertekniksipil.janabadra.ac.id/

Batas akhir pendaftaran: 04 Oktober 2012

Ketua Pengelola MTS FTUJB